A love story · written in time
Made for you,
always.
Every photo, every memory, every reason — a testament to the most beautiful thing I have ever known: you.
♡ Explore Our Story
🥲
Jaringanmu ngelag
—
days of us
Scroll
Our Milestones
Every day counts
—
Days Together
—
Days as a Couple
—
Days of Smiles
∞
Days Remaining
Photo Gallery
Chapter I Best Friend
Our Videos
Moving memories
🎬
Video akan tampil di sini
01 / 06
—
Our Story
How we became
Why I Love You
Let me count the ways
A Love Letter
Words from my heart
Written with love · Always
— Forever yours ♡
Memory Wall
Random photos
The story continues
Chapter II — When We Became Us
The moment that changed everything
June 6, 2026
The Night I
Finally Said It
Malam itu, dingin turun perlahan seperti kabut yang memeluk lereng gunung. Setelah pertengkaran kecil dengan seorang pria ubanan yang secara tidak langsung telah melecehkanmu, kita kembali pada tempat paling sederhana: matras kecil di dekat bara yang menyala malu-malu di depan tenda.
Aku pernah membayangkan akan memberimu setangkai bunga saat mengucapkan pertanyaan itu. Namun malam terlalu beku untuk kakiku melangkah lebih jauh. Maka aku meminjam bulan sebagai bungaku, dan bintang-bintang sebagai saksi yang diam-diam berpendar di atas kepala kita.
Di antara aroma panggangan dan napas yang berubah menjadi uap di udara 13 derajat, aku memberanikan diri bertanya, "Maukah kamu berjalan bersamaku?"
Dan semesta seolah berhenti sejenak ketika kamu menjawab, "Iya."
Lucunya, waktu rupanya belum berpihak pada rencanaku. Jarum jam masih menunjuk tanggal lima, sementara aku ingin memulai kisah kita tepat pada 6 Juni 2026. Maka, dengan tawa yang lahir di sela-sela gugup, aku membatalkan pengakuan itu untuk mengulangnya esok hari.
Keesokan harinya, pertanyaan yang sama kembali kutitipkan kepadamu.
Dan seperti bulan yang tak pernah lupa pulang ke langit, jawabanmu tetap sama:
"Iya."
Sejak saat itu aku mengerti, cinta tak selalu datang dengan bunga di genggaman. Kadang ia hadir setelah amarah yang lahir karena ingin melindungi, lewat keberanian yang gemetar di tengah udara yang membeku, serta dua hati yang—meski sempat salah menghitung tanggal—tetap memilih tujuan yang sama: satu sama lain.
Aku pernah membayangkan akan memberimu setangkai bunga saat mengucapkan pertanyaan itu. Namun malam terlalu beku untuk kakiku melangkah lebih jauh. Maka aku meminjam bulan sebagai bungaku, dan bintang-bintang sebagai saksi yang diam-diam berpendar di atas kepala kita.
Di antara aroma panggangan dan napas yang berubah menjadi uap di udara 13 derajat, aku memberanikan diri bertanya, "Maukah kamu berjalan bersamaku?"
Dan semesta seolah berhenti sejenak ketika kamu menjawab, "Iya."
Lucunya, waktu rupanya belum berpihak pada rencanaku. Jarum jam masih menunjuk tanggal lima, sementara aku ingin memulai kisah kita tepat pada 6 Juni 2026. Maka, dengan tawa yang lahir di sela-sela gugup, aku membatalkan pengakuan itu untuk mengulangnya esok hari.
Keesokan harinya, pertanyaan yang sama kembali kutitipkan kepadamu.
Dan seperti bulan yang tak pernah lupa pulang ke langit, jawabanmu tetap sama:
"Iya."
Sejak saat itu aku mengerti, cinta tak selalu datang dengan bunga di genggaman. Kadang ia hadir setelah amarah yang lahir karena ingin melindungi, lewat keberanian yang gemetar di tengah udara yang membeku, serta dua hati yang—meski sempat salah menghitung tanggal—tetap memilih tujuan yang sama: satu sama lain.
💌
Isi link foto di confessionImg
Our first photo as a couple ♡
♡ Couple Era — Videos
A Film Just For Us
The Day Everything Changed
🎬
Isi link video di COUPLE_VIDEOS
▶
01
Video 01
—
—
Random Views
The Places We Found
01 / 06
Welcome to our recap, baby.
♡
Our
Recap
Recap
2026
Klik untuk membuka scrapbook
Juni 2026
1 / 7
← → arrow keys · swipe to flip
♪ Playlist Kita
Pilih lagu
—
0:00
0:00
Lagu-lagu
0 lagu